Tuesday, March 08, 2005

Protap

4 hari ini gw ikut acara ilmiah.Dimulai dari seminar dan diakhiri dengan pelatihan. Temanya tentang bayi prematur dan resusitasi neonatus.Yang dimaksud dengan resusitasi neonatus itu adalah mengupayakan bayi2 baru lahir yang bermasalah (tidak bernafas, pucat, denyut jantung (-) ) supaya bisa kembali normal dan hidup dengan semestinya.
Di dalam pelatihan, ada satu bagan yg diulang ulang terus dalam setiap sesi. Bagan tersebut berisi tentang langkah2 yang harus dilakukan ketika menghadapi bayi yang baru lahir. Dengan diulangnya bagan tersebut, diharapkan semua peserta menjadi hafal dan bahkan mampu bertindak secara otomatis (baca : tidak sadar). Memang, pada awal pelatihan, gw masih kagok mengerjakan langkah2 tersebut. Ada yang lupa, kelewatan dsb.Tapi di akhir pelatihan, semua peserta bisa melakukan apa yang tertera di bagan itu dengan benar dan dalam batas waktu yang singkat.
Sebelum pelatihan ini, gw pernah ikut pelatihan yang lain. Intinya si sama aja. Prosedur2 yang mesti dilakukan ketika menghadapi situasi tertentu. Dan itu terus diulang sampai gw mampu bertindak dengan cepat tanpa mikir lama2.
Setelah sekian lama hidup dan bertindak berdasarkan protokol/prosedur tetap, ko gw ngerasa gw jadi orang yg ga fleksibel. Semua hal mesti berjalan sesuai urutannya. Kalo ga, gw bisa meledak dan marah2 ga jelas. Padahal, dulu gw ga kaya gini. Dulu gw lebih santai, lebih fleksibel.
Gw pernah menegur satpam di suatu mal hanya karena dia lupa menghormat dan meminta izin ketika hendak memeriksa bagasi. Gw bukan gila hormat ya. Tapi menurut gw, sebelum dia periksa, dia harus menjalankan rutinitasnya. Hormat, memberi salam (selamat pagi/siang/malam), minta izin, kemudian baru memeriksa bagasi. Dan menurut gw hal itu ga sulit untuk dilakuin.
Orang2 yang ada di mobil gw wkt itu (ade gw, ce gw) protes. Mereka bilang, gw ga perlu ngelakuin hal itu. Karena mereka (satpam) udah cape kerja, jadi dimaklumin aja. Buat gw, prosedur tetep prosedur. Mesti dijalanin. Itu kan risiko dari kerjaannya dia. Bener ga?
Dalam hal hubungan sosial dengan orang lain pun gw begitu. Gw bikin suatu “prosedur” sendiri. Gw ga ngeliat orang sebagai suatu individu lagi tapi hanya melihat pola2 (kepribadian) yang mereka munculkan. Dan gw bertindak, bertingkah laku berdasarkan prosedur yang gw buat (berdasarkan pengalaman sebelumnya). Hal itu terus gw ulang ketika menghadapi orang lain dengan tipikal yang sama.
Dalam pelatihan itu dikatakan kalo prosedur2 itu dibuat untuk memudahkan kita untuk bertindak menghadapi situasi tertentu dan juga untuk melindungi diri dari tuntutan hukum yang mungkin ada di kemudian hari. Yang gw ga ngerti, buat apa gw bikin prosedur2 sendiri itu dalam kehidupan sehari2. Ngapain juga gw mesti marah sama satpam? Apa yang harus gw lindungi?

1 comment:

ketket said...

Galak..galak..he3x..